MATAHARI KEDUA "By: Vezellia"
Suara
pintu kamar Irene mengintrupsinya agar segera berhenti menulis isi diarynya. Ia
menghapus sisa air matanya. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat ibunya yang
sudah berpakaian rapi . Ia tahu tujuan ibunya tentang pesta pernikahan itu.
“Maaf
bu, Irene tak bisa, Irene tak bisa menggantikan ayah dengan pria lain, hanya
dia ayahku, matahariku. “ Ucap Irene terbata-bata.
“Irene,
kamu jangan keras kepala seperti ini, ibu tahu kamu sedih, mau tak mau
pernikahan ibu akan berlangsung seminggu lagi, undangannya sudah dicetak .”
Sahut Indah, kemudia ibu Irene meninggalkan Irene yang menangis sejadi-jadinya
dengan sebuah undangan yang ia benci.
Hatiku memanas, darahku mendidih, melihat apa yang ada di mejaku saat ini, sebuah undangan pesta pernikahan ibu dengan pria lain yang bernama Aldo Pratama yang tak ku tahu wajahnya. Aku benci, aku benci kalian, sungguh tega kau menggantikan nama indah yang sudah terukir lama di hatiku bu, lihat aku sekali saja, dengar aku sekali saja bu,,,
Proses demi proses Irene ikuti dengan tidak bersemangat, wajah datar yang ditunjukkannnya membuat semua orang memakluminya, mereka hanya tersenyum kecil kepada gadis yang sudah bertumbuh cantik itu. Hari ini ialah hari bahagia ibu dan keluarganya, tapi tidak dengan Irene, hari ini adalah hari yang menyakitkan dan melelahkan, hari yang akan membawa dia ke kehidupan yang selanjutnya, hari yang akan ia jalani dengan sunyi dan sepi tanpa tawa.
Mereka sedang makan malam bersama, Irene, mamanya, dan ayah barunya. Hanya dentingan sendok yang terdengar, tak ada yang memulai pembicaraan diantaranya.
“ Irene, ibu harap kamu dapat menerima ayah kamu dengan baik, bersikaplah yang sopan padanya seperti pada ibu. “ perintah ibu yang ditolak mentah oleh Irene dalam hati. Ia hanya menganggukkan kepalanya saja.
“ Jangan terlalu kasar padanya, suatu saat ia akan mengerti, Irene butuh waktu untuk menerimanya. “ balas Ayah Aldo dengan senyuman pada Irene.
“Menjijikkan sekali.,,ya ,,saya memang butuh waktu saat ini, butuh waktu untuk menyusun rencana pembunuhan anda,,” batin Irene berkata. Ia tersenyum kecut pada ayah barunya itu, tepatnya ayah tiri.
Pagi
ini, Irene diantar oleh ayah tirinya ke sekolahnya, awalnya ia menolak ajakan
itu, tapi ibunya selalu saja memberikan tatapan tajamnya pada Irene, dengan
terpaksa Irene pun ikut dengan mobil ayah tirinya itu. Hanya obrolan singkat
yang ada, yang diajukan oleh Aldo pada Irene yang dijawab dengan gelengan atau
anggukan saja, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Di sekolah, Irene hanya duduk di kelas saja, berdiam diri seperti patung, tak ada yang menggangunya bila memang sudah melihat muka Irene seperti itu, Setetes air jatuh dari matanya yang sudah ia tahan sejak tadi pagi, ia mengambil buku diary kesayangannya dari dalam tas, dan menuliskan sesuatu disana.
Aku ini juga punya hati, aku juga punya hak atas hidupku, hidup keluargaku, tolong, jangan rebut ibu dariku,,,,,,sepertinya memang ibu tak kan mau lagi denganku, dia lebih memilihmu, laki-laki yang dicintainya ,,,daripada anak kandungnya sendiri.
Hari demi hari Irene jalani dengan begitu saja, taka da yang berubah, sikap dingin selalu saja ditunjukkannya pada ayah tirinya, tidak peduli dengan ibunya yang selalu emosi tiap hari, ia hanya butuh ketenangan, berjuma dengan seseorang yang ia rindu. Pagi-pagi sekali , ia sudah bangun, dan sekarang sedang sarapan bersama dengan ibu dan ayahnya.
“Bu, hari ini Irene kerja kelompok, sepertinya Irene akan pulang malam.” Kata Irene sesudah menyelesaikan makanannya.
“Dimana kerja kelompoknya ? Apa kamu pulang dulu ke rumah?” Tanya ibu.
“Tidak bu, Irene langsung dari sekolah bersama Rika, kami kerja kelompok di cafe dekat rumah Rika kok, bu .” Jawab Irene dengan tersenyum.
“Ohhhh,,baiklah,,Ibu harap kamu ingat waktu nanti,,cepat ambil tas mu, ayah sudah menunggu di depan. Irene, ibu mohon akrablah dengan ayah, ia baik pada ibu dan juga padamu. Maaf bila selama ini ibu kasar padamu. Ibu menyayangimu , nak .” Ucap Ibu sambil memeluk anak sematawayangnya itu.
Hati Irene terhenyuh melihat tindakan ibunya. Sejujurnya, ia tidak tega melihat ibunya menangis, tapi hatinya seolah berkata tidak untuk itu, ia belum bisa menerima ayah tirinya sebagai ayahnya sendiri. Irene berpamitan dengan ibunya kemudian berangkat ke sekolahnya tercinta tapi tidak bersama ayah yang ia cintai.
Saat ini, mereka sudah duduk manis di Cafe M untuk mengerjakan tugas kelompok bersama Rika, sahabatnya. Mereka sedang makan siang dan sesekali berscerita, bercandaria seolah-olah dunia hanya milik mereka. Cukup melelahkan memang, tugas mereka banyak bukan main, nyatanya, tugas itu baru siap ketika jarum jam menunjukkan angka 22.00 WIB. Mereka berpisah di depan cafe , karena rumah Rika berbeda arah dengan rumah Irene. Irene pun segera naik angkot dan pulang , ia tidak mau direpeti ibunya untuk kesekian kalinya.
“Irene, kenapa lama pulang nak?” Tanya Ibu lembut ketika Irene memasuki kamarnya.
“Ahhh,,maaf bu, tadi banyak tugas. “ Balas Irene dengan sedikit gugup.
“ Ya sudah, kamu cepat mandi sana, nanti ibu antar makanan kamu ke atas.” Jawab ibu dengan tersenyum lembut pada Irene. Irene heran dengan tindakan ibu akhir-akhir ini yang lembut, penyayang, tapi ia bersyukur akan hal itu, ibu masih menyayanginya.
Irene sudah selesai makan malam, ibunya memang mengantarkan makanannya tadi ke kamar, saat ini ia sedang menyusun buku pelajaran untuk besok, ia sibuk mencari buku di dalam tasnya, tapi tak kunjung dapat, berkali-kali Irene mngobrak-abrik tasnya dan ,,,,,buku diarynya ketinggalan di cafe M tadi. Dengan tergesa-gesa ia keluar kamar dan menutup pintu dengan suara yang cukup keras melewati ruang keluarga tempat ayah dan ibunya kini menonton.
“Irene, mau kemana kok buru-buru?” Tanya mama lembut.
“Aku mau ke cafe tempat Irene kerja kelompok bu, buku Irene ketinggalan.” Ucap Irene sambil berlari menuju lantai satu. Ibu dan ayah pun segera mencegah Irene .
“Irene, sekali kamu buka pintu, ibu tidak kasih izin kamu sekolah.” Ancam mama tegas.
Langkah Irene berhenti tepat di hadapan pintu, ia mematung disana. Ia berpikir keras bagaimana cara keluar rumah ini. Ibu datang dan memeluk Irene yang mematung sedari tadi.
“Sayang, ini sudah larut malam, seberapa penting buku yang ketinggalan di cafe itu untukmu? Tidak mungkin ibu membiarkanmu pergi di luar sana.” Kata ibu dengan perhatian.
“Tidak bu, Irene harus pergi sekarang juga.” Bantah Irene melangkahkan kakinya ke depan pintu.
“Irene, masuk, ibu tidak menerima penolakan, sebaiknya kamu tidur, buku itu bisa diambil besok lagi.”Ucap ibu marah.
“Ibu tidak tahu tentang buku itu, dia begitu bersejarah dalam hidupku, hanya dia yang bisa menyenangkanku.”Ucapnya sambil menatap ayah dan ibu bergantian. Irene pun naik ke lantai dua kamarnya. Tangisnya pecah. Dalam sekejap saja, bantalnya sudah penuh dengan air kesedihan.
“Sudah, sudah, kau sungguh emosian kepadanya, aku yang akan mengambil buku itu, tolong tenangkan dia, kau juga jangan bersedih begini.”Ucap Aldo kepada istrinya dengan tersenyum. Ia pun berangkat ke cafe M menggunakan mobil pajero hitamnya,dengan cepat ia gas mobil itu agar cepat sampai. Aldo sedang sibuk mencari-cari buku di cafe M itu, beruntung satpam memberikan dia waktu untuk masuk walau hanya 5 menit saja dan saat ini adalah 3 menit terakhir.
“Ahh,, Bukannya ini diary ya?” Tanya Aldo pada dirinya sendiri. Ia membuka diary itu dan terukirlah nama yang cantik Irene Permata, bersama foto keluarganya. Ia membuka lembaran demi lembaran diary itu. Ia terharu akan tulisan cantik putrinya itu.
“Pak, apa bapak sudah selesai, saya mau menutup cafe ini.” Kata seorang satpam dari pintu.
“Oh, iya pak, maaf , terimaksasih banyak ya pak.” Pamit Aldo dan melangkah pergi menuju mobilnya. Ia kemudian menggerakkan mobilnya perlahan, saat ini sudah pukul 22.45 WIB, kira-kira 15 menit kemudian ia sudah sampai di rumah. Ia pergi ke ruang kerjanya dengan diary putrinya menggantung di tangan kekarnya. Aldo mengambil posisi duduk yang benar untuk membaca isi dari diary itu, sesekali ia melihat foto lelaki tua yang dibawahnya bertuliskan ayah tercinta. Ia membaca terus membaca isi diary itu sa mpai habis, tanpa sadar ia menitihkan air mata , sungguh hebat putrinya itu menyelesaikan apapun dengan dirinya sendiri, tidak mau menyusahkan orang lain, dan ia melihat tulisan terakhir di diary itu,
Ayah, aku besok ulang tahun, apakah besok ada kue yang akan ku tiup lilinya? Aku berharap ayah yang memberikannya, Aku merindukanmu .
Kringgggggg…..Alarm Irene berbunyi, tapi ia tak bangun, ia justru mematikan alarmnya.Kepalanya sungguh pusing dan panas, darahnya menggigil pagi ini, ia melanjutkan tidurnya hingga ia pun terbangun jam 9 pagi.
Tok….tok….tok…….
“Sayang, apa kamu di dalam, boleh ayah masuk? Irene, kamu sudah bangunkah? Izinkan ayah masuk nak. “Mohon ayah pada Irene, ia terus berusaha sampai Irene membuka pintunya dengan perasaan cukup kesal.
“Ada apa ?” Tanya Irene kesal dan tak suka pada ayah tirinya itu.
“Boleh ayah masuk, ayah mau ngomong sesuatu padamu.”Ucap ayah lembut yang diangguki Irene dan duduk di kasur.
“Irene, ayah memang bukan ayah kandungmu, ayah menyayangimu, sungguh menyayangimu, ayah memang tak bisa menggantikan posisi ayahmu, tapi tak bisakah menerima ayah? Ayah tahu perasaan kamu sayang, makanya dari itu ayah mohon, jadikan ayah matahari yang kedua untukmu nak (Suara Aldo bergetar dan mata yang sudah berkaca-kaca). Ia mengeluarkan buku diary Irene dari dalam jasnya. Ini sayang, buku diarymu (Irene mengambilnya dan memeluknya) ayah menjemputnya tadi malam,ayah tidak menghilangkan satu lembar pun, semua masih utuh kok, dan… maafkan ayah jika perkataan ayah membuatmu sakit hati, tapi tindakan ayah, setulusnya ayah lakukan untukmu. Kamu maukan memaafkan ayah? Tanya Ayah. Irene terdiam, ia kaku, hatinya ingin menolak, tapi tak bisa, ia menangis.
“Aaaayah..” Ucap Irene terbata-bata, membuat Aldo tersenyum bahagia. Irene memeluk Aldo dan menahan tangisnya disana. Sudah lama ia rindu akan pelukan seorang ayah, pelukan ayah tirinya ini sungguh menghangatkan hati Irene.
“Maafkan Irene, yah, selama ini…” Ucap Irene terputus dengan perintah ayah.
“Tidak sayang, ayah yang minta maaf, kita baikan kan?” Tanya ayah sambil mencium kening Irene penuh kasih sayang.
“Selamat ulang tahun putri ayah” Ucap ayah dengan tersenyum tulus, Irene pun membalasnya dengan senyuman. Ibu datang ke dalam kamar Irene dengan membawa kue ulang tahun dan kado di tangannya , sejenak ia berhenti di depan pintu, ia menangis disana,
“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun……….” Ibu bernyanyi untuk Irene sambil membawa kue ulang tahunnya.
“Sayang, selamat ulang tahun putri kesayangan ibu, sekarang tiup lilinnya dulu.” Ajak ibu.
“Tiup lilinnya bareng-bareng ya bun, yah?” Ajak Irene yang membuat ibunya menatap Irene dengan terharu, sudah lama ia tidak mendengar panggilan itu. Indah langsung memeluk dan mencium puncak kepala Irene dengan sayang.
“Makasih ayah, bunda, Irene seneng banget .” Ucapnya tulus. Irene mencium bunda dan ayahnya bergantian.
Tidak
selamanya apa yang ada di pikiran kita benar, tapi tidak juga selalu salah.
Hidup ini adalah kesempatan. Jangan sia-siakan apa yang telah Tuhan berikan
untuk hidup kita. Sayangilah keluargamu, sahabatmu selagi masih ada waktu dan
kesempatan karena merekalah tempat kita berbagi kasih sayang sesungguhnya.
THANK YOU
Cerpen di atas adalah salah satu koleksi ceritaku yang murni aku buat sendiri, untuk cerita yang lainnya ditunggu aja yaaaa,,,semoga pesannya ceritanya dapat :):):)
#salam_vezellia
#salam_vezellia
13 komentar:
Luluh hatiku
Tulisan yg membuat saya dapat inspirasi
Mantul ahh,sangat sukaa
Ciee ciee akhirnya nama vezelia keluar juga yahh...
But, cuman kasih masukan aja yahh ve,klimaksnya kurang menyentuhh tapii untukk keseluruhan cerita udh baguss kokk 😊😊
Cerita nya bagus
Yeayyyy!
ea. menarik juga nih
Mantapp, ada pesan penting disana. Lanjutt
Memberi beberapa pengetajuan yg menurut saya iya itu pengetahuan baru untuk saya. Dan saya berterimaksih
Good job lanjut veraa
Semangat terus nulisnya, Ver. Ditunggu karya selanjutnya :)
Cerita yg sangat penuh maknaaa. Semangat terus nulisnya Veeer!!!
Mau jadi matahari:(
Posting Komentar